Jumat, 24 Juni 2016

THE WITCH [2015]


“The Witch” atau film-film bertema penyihir lainnya selalu meninggalkan pesan moral kepada penontonnya. Khususnya untuk penonton anak-anak: “jangan pernah memakan permen dari rumah di tengah hutan.” Jika tidak salah, kutipan ini berasal dari dongeng “Hansel & Grethel” karya Grimm bersaudara.


Maka di sini saya berpesan kepada Anda semua, berhati-hatilah dengan rumah/pondok kecil di tengah hutan. Jangan pernah mendekatinya, mengetuk pintunya, apalagi sampai masuk ke dalamnya. Siapa tahu di dalamnya memang ada penyihirnya...maaf, saya bercanda.

Penggambaran dari sosok penyihir sendiri memiliki variasi dari setiap inkarnasinya. Biasanya mereka digambarkan tinggal menyendiri di tengah hutan sembari membawa buah apel sebagai atribut utamanya. Mungkin versi dari “The Wizard of Oz” (1939) adalah yang paling terkenal. Dipanggil dengan sebutan The Wicked Witch, penyihir ini memiliki wajah hijau, topi panjang, dan sapu terbang.

“The Witch” ini adalah karya debut dari Robert Eggers. Sebagai sebuah karya perdana, Robert Eggers membawa tema yang familiar ini menjadi lebih terasa menyegarkan. Kita memang banyak tahu soal film yang bercerita soal penyihir. Tapi bagaimana penceritaan yang dibawakan oleh Robert Eggers di sini (sekaligus penulis naskah), benar-benar memberikan warna baru.

“The Witch” memang tidak dituturkan secara spectacle dengan CGI besar-besaran. Tidak ada pula adegan pertarungan antar penyihir dengan melibatkan aksi over-the-top. Alurnya juga cenderung pelan. Film ini digambarkan dengan gelap dan penceritaan yang lebih berat.
Aspek sukses yang diterapkan dalam film ini adalah pada pengaturan tone; seperti skoring musik dari Mark Korven yang haunting hingga pembangunan set. Film ini berlatar New England di abad 17, pembangunan ulang lokasinya begitu mengagumkan. Suram, mencekam, diliputi dengan banyak asap seakan kota-kota ini tengah dikutuk. Saya juga suka dengan semua desain kostumnya.

Fokus dalam “The Witch” adalah keluarga Puritan yang diusir dari kampung halamannya. Mereka diusir karena perbedaan pandang dengan gereja tempat mereka tinggal. Keluarga itu terdiri dari William (Ralph Ineson), Katherine (Kate Dickie) sang istri, Thomasin (Anya Taylor-Joy) anak tertua, Caleb (Harvey Scrimshaw) anak kedua, dan terakhir si anak kembar.

Dari daerah perkebunan, mereka pindah ke sebuah tanah kosong dekat hutan. Mereka membangun daerah peternakan di sana. Selama tinggal di sana, keluarga William diberkahi dengan lahirnya sang bayi. Namun pada suatu hari, bayi tersebut hilang saat diajak bermain oleh Thomasin. William sekeluarga diliputi rasa duka. Mereka percaya, serigala telah menerkamnya.

Tentu saja akhir dari sinopsis di atas bisa Anda tebak sendiri jika pelakunya adalah penyihir. Di mana penyihir berada? Pasti jawabannya di dalam hutan. Tanpa berusaha membeberkan spoiler, alur “The Witch” sebenarnya bisa dibilang mudah untuk dicerna. Namun yang membuat “The Witch” begitu istimewa dibanding horror bertema sejenisnya adalah pesan tersembunyi dalam ceritanya.
Saya akan kembali ke alur cerita. Setelah kehilangan anak yang paling muda, hubungan antar anggota keluarga ini mulai renggang. Gesekan-gesekan mulai terasa yang akhirnya berujung pada penyalahan Thomasin atas hilangnya sang adik. Dari keluarga yang relijius dan rukun, kini mereka tengah menghadapi konflik internal yang setiap saat bisa menjadi bom waktu.

Di balik tema penyihir dan supernatural-nya, Robert Eggers sengaja memasukkan konflik disfungsi keluarga di sini. Bisa dirasakan, kekacauan keluarga ini berasal dari rasa ketidakpercayaan satu sama lainnya yang menjadi titik awal kehancuran. Basis utamanya adalah tentang “kebohongan,” dimana biasanya film berkonflik disfungsi keluarga selalu menempatkannya di dalamnya.

Robert Eggers sangat subtle dalam memasukkan hal tersebut ke dalam film ini. Memang jika tidak jeli, kita hanya akan menganggap “The Witch” sama halnya dengan horror tentang penyihir lainnya. Kemahiran Robert Eggers ada pada rapinya ia dalam menempatkan konfliknya. Ia sempurnakan properti yang diperlukan dalam horror penyihir sebagai template-nya. Dengan begitu, penonton tidak sadar tengah menyaksikan drama tentang kekacauan dalam keluarga.

Film ini mengingatkan saya pada “The Babadook” (2014); tentu keduanya memiliki plot berbeda. Tanpa perlu mencoba menakuti penonton dengan segala tetek bengek berlebihannya, terbukti keduanya efektif untuk film di genre-nya. Tidak hanya menyeramkan, tapi juga menghibur—ini nilai paling penting.        

3 komentar:

  1. Saya ucapkan banyak terima kasih kepada Ki Witjaksono atas bantuan dana ghaibnya kini kehidupan ku lebih jauh dari sebelumnya dan itu semua berkat Ki Witjaksono bagi saudara-saudara yang mau di bantu sama Ki Witjaksono silahkan hubungi: 0852_2223_1459.
    selengkapnya KLIK-> PESUGIHAN TANPA TUMBAL

    BalasHapus
  2. "Zapplerepair pengerjaan di tempat. Zapplerepair memberikan jasa service onsite home servis pengerjaan di tempat khusus untuk kota Jakarta, Bandung dan Surabaya dengan menaikan level servis ditambah free konsultasi untuk solusi di bidang data security, Networking dan performa yang cocok untuk kebutuhan anda dan sengat terjangkau di kantong" anda (http://onsite.znotebookrepair.com)
    TIPS DAN TRICK UNTUK PENGGUNA SMARTPHONE

    BalasHapus
  3. Toyota dp rendah, hubungi Ateng di 08119117567

    BalasHapus

AYO KITA DISKUSIKAN !